Senin, 22 April 2013

Muhammadkan hamba Ya Rabbi..

Muhammadkan hamba Ya Rabbi.........
Disetiap tarikan nafas ini
Tak ada dambaan yang lebih sempurna lagi
Di ufuk jauh kerinduan hamba Muhammad berdiri
Muhammadkan hamba Ya Rabbi......
Seperti siang malammu yang patuh dan setia
Seperti bumi dan matahari yang bekerja sama
Menjalankan tugasnya dengan amat terpelihara
Muhammadkan hamba Ya Rabbi, Muhammadkan
Agar tak menangis dalam keyatimpiatuan
Agar sesudah hijrah hamba memperoleh kemenangan
Muhammadkan hamba Ya Rabbi, Muhammadkan hamba....
Agar kehidupan hamba jauh melampaui usia hamba
Agar setiap langkah mengantarkan Rahmat bagi alam.
Muhammadkan hamba Ya Rabbi, Muhammadkan di rumah, di tempat kerja, dan di perjalanan agar setiap ucapan, keputusan dan gerakan
Menjadi ayatmu yang indah dan menaburkan keindahan.
Muhammadkan hamba Ya Rabbi, Muhammadkan hamba.......
Perdengarkan tangis bayi padang pasir dikelahiran hamba......
Alirkan darah Al-Amin disekujur badan hamba
Serungkan tameng Al-Ma’shum digerak perjuangan hamba......
Kalungkan kebencian Abu Jahal di leher hamba
Sandingkan keteduhan Abu Thalib di kaki duka lara hamba
Payungkan awan cintamu di bawah, terik politik durjana
Ucapkan tangan sejuk Khadijah pada kening derita hamba
Kirimkan Jibril mencuci hati Muhammad hamba
Lahirkan kembali wahyumu di detik gemetar jantung hamba
Dan kucurkan darah luka Muhammad oleh pedang kaum pendusta
Hadiahkan pada hamba rasa sakitnya
 
Ya Rabbi, Ya Rabbi, Muhammadkan hamba.......
Bersujud dan tafakkur di Gua Hira jiwa hamba
Berkeliling ke rumah tangga, negeri, dan dunia
Menjajahkan cahaya
 
(Emha Ainun Najib. 1988)

SISI LAIN LAGU LETTO

 Pada suatu bulan ramadhan kemarin, group Letto diwawancari oleh wartawan infotaiment: mengapa mereka tidak membuat album religious sebgaiman banyak dilakukan oleh band-band lainya? Jawaba mereka adalah, Letto tidak punya agama. Letto adalah milik semua orang. Namun dibalik jawaban itu, penulis melihat bahwa sebenarnya Letto tidak melihat lagi keterpisahan antara bermusik dengan beragama. Kedua hal tersebut merupakan satu kesatuan. Hal ini bisa dirujuk dari pernyatan Cak Nun pada saat kenduri Cinta di Jakarta yang di sana juga hadir Noe, voklais Letto dan juga ank Cak Nun, bahwa kesenian tidak bisa dilepaskan dari dunia spiritualitas. Bahkan, seniman lah spiritualis sejati.

 

Apa yang dikatakan oleh Cak Nun ada benarnya. Coba bayangkan, bagaimana suatu lukisan bisa bernilai jutaan rupiah, padahal kalau dirunut dari bahan yang digunakan bisa jadi tidak lebih dari seratus ribu rupiah. Orang tidak melihat dari bahan material tersebut, tetapi dari apa yang di belakngnya, sesuatu yang abstrak, sesuatu yang spiritual. Spiritualitas tersebut juga dapat kita temu dalam lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para penyani Indonesia, meskipun merka tidak menyebutnya sebagai lagu religi. Sebagi misal adalah Dewa 19 dan Chrise (al-maghfur lah).
Spirutualitas tersebut juga penulis temui di beberapa lagu Letto yang akan coba penulis bedah. Penulis mencoba untuk menerapkan metode Hermeneutika dalam menganalisis lirik-lirik lagu tersebut. Letto sendiri tidak mau terlalu menafsirkan lagu-lagunya. “We don’t want to control the meaning of our songs,” Baginya lagu-lagu Letto sangat terbuka untuk ditafsirkan oleh semua orang. Menurutnya Spiritualitas yang penulis maksud di sini adalah sufisme, atau ajaran esoteric Islam. Hal ini terkait dengan latar belakang Letto sendiri.


Sufisme
Di sini penulis tidak akan mengulas akar sejarah sufisme, tetapi hanya mencoba sedikit menengok pada ajaran-ajaran fundamental dalam sufisme. Dengan demikian, harapannya bisa mencakup berbagai aliran tasawuf yang ada di dunia Islam. Dan lebih sempit lagi pada tasaawuf yang banyak diikuti di kalangan Sunni dengan Al-Ghaazli sebagai tokoh pemikirnya.
Ada beberpa istilah yang sering digunakan dalam dunia sufisme yang sering disebut maqom, atau station, yaitu tingkatan-tingkata perjalan yang harus di lalui seorang sufi. Menurut Al-ghazali, maqom-mqom itu mencakup tauhid, ma’rifah, mahabbah. Kita mengenal juga istilah fana dan baqa’, hulul dan ittiha, dn juga wahdatul wjud.
Tauhid adalah pengesaan Allah, yaitu kesaksian bahwa Allah itu tunggal dalam sifat dan dzatnya. Sementara ma’rifatullah adalah mengenal Allah mellaui penyingkapan tabir, sehingga manusia bisa mengenal Allah sebagaiman Allah mengenalkan dirinya. Mahabbah adalah rasa cinta kepada Allah yang telah didahului oleh ma’rifatullah. Dari mahabbah ini kemudian muncul al-unsu billah, yaitu rasa keintiman dan kemesraan bersama Allah. Dari mahabbah muncul pula as-syauq atau kerinduan. Kerinduan seorang sufi laksana seorang yang kehausan yang tak hilang hausnya meski dia telah meneguk seluruh air lautan. Dari sini kemudian dia mengalami satu ekstase atau semacam mabuk.
Pada tingkatan ini seorang sufi akan merasakan, pertama keteterkejutan, karena dia telah kasyaf, tersingkap tabir, dan menyaksikan keindahan wajah Tuhan. Lalu kemudian dia terkagum-kagum dan hanyut terserap pada keindahan wajah Tuhan tersebut.
Lirik-lirik sufisme
Ada beberapa kata yang menjadi core dari lagu-lagu Letto. Cinta, kesunyain dan kerinduan. Seringkali Leto mengidentikkan hidupnya dengan kesunyian. Terkadang dia merasa ragu dlam perjalanan itu. Kadang dia meraba, mencari arah tujuan. Lihat saja lirik:
Yakinkah ku berdiri, di hampa tanpa sepi
Bolehkah aku mendengarmu
Terkubur dalam emosi, tanpa bisa sembunyi
Aku dan nafasku merindukanmu

Terpurukku di sini, teraniaya sepi
Dan kutahu pasti kau menemani… yeah
Dalam hidupku, kesendirianku
(Sandaran Hati, Truth, Cry and Lie)
Lihat juga lirik lagu sebelum cahaya

Ku teringat hati
Yang bertabur mimpi
Kemana kau pergi cinta
Perjalanan sunyi
Engkau tempuh sendiri
Kuatkanlah hati cinta
(Sebelum Cahaya, Don’t make me sad)


Namun dalam kesepian itu, Letto mencoba mencari jalan, orientasi, arah yang akan di tuju. Pencarian itu bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi melalui derita. Namun derita itu tidaklah mengapa baginya. Keteguhanlah kuncinya. Ini sebagi pemenuhan janji primordial yang telah dipersyaksika oleh ruh kepada Allah, perjanjian akan pengkuan Allah sebagi Tuhan. Dengan demikian. Jadi dia mencoba untuk terus berdiri, berjalan menuju-Nya, karena Letto yakin, segala kesusahannya, segala resahnya akan hilang ketika bersama-Nya.

Ketika kucoba mencari-cari
Jalan yang hilang

Aku tak peduli
Apa kata orang
Hanyalah untukMu
Seluruh rinduku
Harus kutemukan sekali lagi
Jalan yang hilang
(Jalan Yang Hilang, Lethologica)

Dalam mengarungi jalan sunyi ini, Letto yakin tidak akan pernah sendiri. tidak pernah manusia itu berada dalam kesndirian, karena pasti Tuhan kan bersamanya, manyaksikannya. Bahkan ketika manusia sudah sampai pada taraf sadar akan jagad kosmos, dia akan mendengar alam yang juka bertasbih kepa-Nya.

Ingatkan engkau kepada
Embun pagi bersahaja
Yang menemanimu sebelum cahaya
Ingatkan engkau kepada
Angin yang berhembus mesra
Yang kan membelaimu cinta
(Sebelum Cahaya, Don’t make me sad)

Sebelum cahaya menunjukkan satu waktu di mana ini juga mengungkapkan pada jalan sunyi seorang yang mengejar cinta. Dia ternyata tidak pernah terlepas dari cinta, bahkan Letto mengatakan bila dia lepas dari Cinta, maka dia akan hilang. Kehilangan ini menyiratkan akan kehilangan makna hidup, atau bahkan kehilangan eksistensi diri. Dari itu Letto menginginkan suatu kebersamaan selalu dengan Cinta. Di sinilah dia menginginkan agar dia selalui dihantui oleh Cinta.

Rasa cinta yang mendalam, suatu perjalanan sunyi, keterikatan dan keyakinan pada janji ini kemudian mengguratkan kerinduan-kerinduan pada diri Letto. Rindu untuk kembali kepada Sang Azali, rindu untuk selalu bersama. Di sinilah kerinduan menemukan ruang. Kerinduan adalah satu petunjuk keberjarakan Letto dengan Cinta. Satu waktu jarak ini menemukan momentum pertemuan. Suatu penyaksian akan wajah Cinta. Pada pertemuan itu, Letto sendiri merasakan satu rasa yang tak menentu. Satu rasa yang aneh, yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan. rasa ini bisa juga disebut sebagai keterkaguman. Keterkaguman Letto pada wajah Cinta yang Maha Agung. Dan diapun berkesimpulan, ku tak pantas memandangi wajahmu. Di sini sebenarnya dia telah hanyut terbawa oleh keterkaguman tersebut.

Anatar profanisme, Sufisme dan kepekaan Sosial
Letto menyadari bahwa dirinya adalah manusia bumi yang tidak bisa terlepas dari realitas sosialnya. Namun dia tidak ingin terseret dalam arus massa. Dia mencoba meihat dengan lebih jernih. Sebagaimana dia menafsirkan tentang cinta. Menurutnya, cinta yang dia maksud bukanlah sebagaimana cinta yang telah terkontaminasi oleh kepentingan, atau hanya cinta antara dua manusia yang berlawanan jenis. Sehingga pemahaman cinta dalam lirik-lirik agunya pun akan berbeda dengan pemahaman cinta dalam lagu-lagu musisi kebanyakan.
Sepertinya hanyalah ada
Memang aku tak setuju
Dengan dirimu
Tentang arti cinta
Bukan hanya berdua
Tetapi tentang semuanya
(itu lagi-itu lagi, Lethologica)

Kepekaan sosail Letto juga akan nampak pada lagu ku tak percaya. Lagu yang melihat kontes pemilihan umum dengan acara kampanyenya sebagai penghamburan katakata yang tak bermakna, hanya sebagai pelamis bibir saja.
Kata-kata takkan pernah punya makna
Takkan pernah punya makna
Ketika hati tak bicara
Jangankan kau berikan pada ku
Mimpii surgama
Jangan pernah kau tawarkan kepadaku
Keindahan yang semu
Tanpa itu aku mampu menjalani hidupku
Dan kukatakan padamu
Kata hatiku Ku tak percaya

Kamu kah pahlawanku
Yang mengaku orang nomor satu
yang katanya mampu menghapuskan sedihku
Kalau itu yangkau bilang
Coba lai kau kumandangkan
Janji-jani yang engkau banggakan itu
(ku tak percaya, Lettologica)

JANGAN GALO LAGI YAHH :)

Cinta memang tak pernah usang untuk dibahas. Selalu ada sisi menarik dari cinta. Cinta terkadang manis, tapi juga akan terasa pahit tergantung bagaimana kita mengelola cinta. Cinta antarmanusia memang tak selamanya akan semanis kurma terkadang apa yang kita cintai meninggalkan kita seperti kisah berikut.
Kita mungkin tak asing lagi dengan kisah cinta Laila Majnun, kisah cinta antara Qeis dan Laila. Di kisah ini Laila benar-benar membuat Qeis gila. Qeis yang memiliki wajah pas-pasan amat cinta dengan Laila karena wajahnya cantik. Tapi sayang, Ayah Laila tidak menyetujui hubungan antara Qeis dengan Laila ditambah Laila dipersunting lelaki lain.
Hal ini membuat Qeis depresi. Ia sering melamun dan sering menyebut nama Laila dan ia lupakan Allah Subhanahu wata’ala yang semestinya ia cintai dan rindukan. Wallahu a’lam.
Sebenarnya masih banyak lagi kepahitan cinta semu antarmanusia akibat terlalu berlebihan dalam mendambakan seorang kekasih yang sudah menghilang. Salah satunya gara-gara cinta ditolak seseorang menjadi buta, ia sampai hati menyebarkan kejelekan orang yang dicintai kepada orang lain salah satunya lewat situs jejaring sosial yang sekarang ini sedang digandrungi para remaja.Selain itu, ada yang tega membunuh orang yang dicintai atau bahkan membunuh dirinya sendiri. Naudzubillahi min dzalik.
Itulah cinta. Cinta semu diantara manusia. Cinta yang didefinisikan sebagai amalan hati yang akan tampak pada amal lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah, maka ia akan menjadi ibadah. Namun, jika cinta tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi perbuatan yang amat merugikan bagi diri sendiri maupun orang lain sebagaimana cinta semu diantara manusia yang bisa membuat seseorang jatuh ke jurang penderitaan lahir maupun batin gara-gara cinta ditolak.
Derita lahir salah satunya depresi atau stress, sedangkan derita batin yakni hatinya menjadi keruh karena sudah dicemari penyakit dan hatinya kering dari kerinduan terhadap Allah.
Apa itu Mahabbah Al-isyq?
Hati yang menjadi buta seperti yang dikisahkan tadi dipicu oleh mahabbah al-isyq. Apa ntu mahabbah al-isyq? Mahabbah al-isyq merupakan jenis cinta yang arahnya lebih pada aspek kesamaan atau kecocokan di antara yang mencintai dan yang dicintai. Kesamaan atau kecocokan di antara manusia berlawanan jenis menimbulkan perasaan suka.
Nah, persamaan kepentingan, sehingga kedua insan padu, akhlak yang baik, rupa cantik atau tampan serta kecerdasan sebagai pemicu mahabbah al-isyq. Qeis suka dengan Laila karena wajah Laila yang amat cantik. Wajah cantik Lailalah pembangkit gejolak mahabbah al-isyq Qeis.
Walaupun, faktor kecantikan atau tampan, kecerdasan, persamaan kepentingan dan akhlak yang baik bukan faktor utama, faktor tersebut seringkali dijadikan dasar kenapa seseorang menyukai lawan jenis.
Sesuai dengan yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim, pada dasarnya manusia ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan hikmahNya yaitu Allah menciptakan makhlukNya dalam kondisi saling mencari yang sesuai dengannya, secara fitrah saling tertarik dengan jenisnya, sebaliknya akan menjauh dari yang berbeda dengannya.
Kok Aku Terjerat Penyakit Al-isyq?
Cinta yang tidak baik dan salah diantara manusia serta tanpa diimbangi dengan cinta kepada-Nya memang akan menyebabkan penyakit. Orang yang terserang penyakit al-isyq akan berbuat apa saja demi cintanya dapat diterima oleh orang yang dicintai.
Hati dan pikiran orang yang terserang penyakit cinta pun semakin tidak karuan, pikiran kotor sering muncul sehingga ide-ide kotor yang hadir dalam pikiran menodai usaha manusia dalam mengejar cintanya pada seseorang.
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa penyakit al-isyq agaknya sering menimpa orang yang hatinya kosong dan rasa cinta kepada Allah sangatlah kurang terlihat dari pikiran-pikiran seseorang yang sedang kasmaran menjadi buta dan jauh dari Allah subhanahu wata’ala. Berkata ulama Salaf bahwa penyakit cinta adalah getaran hati yang kosong dari segala sesuatu selain apa yang dicinta dan dipujanya.
Nyata sekali kalau hati kita jauh dari rasa cinta kepada-Nya akan mudah sekali terserang penyakit al-isyq. Kalaulah kita terlanjur diserang penyakit cinta cobalah hati yang kosong dipenuhi dengan mahabbah kita kepada Allah karena ini terapi yang paling diutamakan yaitu mengutamakan cinta kita kepada Allah.
Mahabbah al-isyq akan menjadi penyakit hati apabila ternyata seseorang yang dicintai tak menerimanya karena adanya penghalang seperti perbedaan kepentingan, adanya cela dalam akhlak, serta rupa sehingga menimbulkan salah satu insan pergi meninggalkan seseorang yang awalnya ia suka.
Hilangnya atau kepergian orang yang dicintai membuat dorongan penyakit al-isyq semakin besar. Maka dari itu, perlu adanya terapi agar dapat terhindar dari penyakit al-isyq. Penyakit al-isyq agaknya berbeda dengan penyakit-penyakit pada umumnya dilihat dari segi bentuk, sebab, maupun penyembuhan.
Penyakit ini mampu membuat jiwa dan raga seseorang sakit seluruhnya. Obat penawarnya pun agak sulit dicari bahkan dokter terkadang kewalahan menangani penyakit al-isyq. Eitz, kita tak perlu resah dan takut karena terlanjur terserang penyakit al-isyq, Rasulullah memiliki terapi khusus agar kita terhindar dari penyakit ini, lho. Mau tahu?
Terapi Penyakit Al-Isyq ala Rasulullah
Ada beberapa terapi dalam menyembuhkan penyakit al-isyq ala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan oleh Ibnul Qoyyim dalam karyanya Zadul Ma’ad. Terapi ini diberikan tentunya karena pada dasarnya manusia memiliki nafsu yang tidak selamanya menguntungkan manusia.
Hal ini sesuai dengan firman Allah :
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali-Imran [3] : 14)
Cinta terhadap lawan jenis sewaktu-waktu dapat menuju dorongan syahwat yang berbahaya. Oleh karena itu, agar tidak terjadi sesuatu yang merugikan, tindakan pencegahan lebih awal serta menjauhkan diri dari sikap maupun sarana yang menjurus pada penyakit al-isyq seperti ber-chat ria lewat situs jejaring sosial atau ber-sms dengan lawan jenis juga banyak memberikan immun hati terhindar dari penyakit al-isyq.
Rasulullah menganjurkan kepada pemuda yang telah mampu untuk menikah. Jika memang ada peluang untuk menikahi wanita yang dikasihinya. Namun, bila si pemuda belum siap dianjurkan untuk berpuasa sebagaimana tercantum dalam hadits dari riwayat Ibn Mas’ud Radhiyallahu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hai sekalian pemuda, barang siapa yang mampu untuk menikah maka hendaklah dia menikah , barangsiapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa karena puasa dapat menahan dirinya dari ketergelinciran (kepada perbuatan zina).”
Nyata solusi yang paling manjur untuk orang yang sedang kasmaran adalah menikah dan dengan menikah pastinya akan terhindar dari zina dan tak usah bingung lagi untuk berbalas kasih dengan orang yang dicintai.
Seperti halnya Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku tidak pernah melihat ada dua orang yang saling mengasihi selain melalui jalur pernikahan.”
Tidak semuanya orang yang sedang tertimpa penyakit cinta bisa disembuhkan dengan cara menikah dan berpuasa. Karena peluang untuk menikahi orang yang dikasihi terhalang oleh takdir yakni orang yang dikasihi bukan jodohnya. Jika sudah begini, penyakit al-isyq akan semakin parah apabila tidak ditangani sesegera mungkin dengan terapi.
Terapi kedua yakni berpikir positif (Be positive thingking, okey!) dan menyakinkan diri bahwa apa yang menimpa kita kepada orang yang dikasihi adalah takdir Allah subhanahu wata’ala. Berpikirlah bahwa Allah subhanahu wata’ala pasti akan memberikan yang lebih baik karena jodoh sudah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wata’ala.
Mencoba sedikit demi sedikit untuk melupakannya dengan cara lebih mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala dan berdoa kepada Allah diberikan jodoh yang lebih baik.
Bila cara menyakinkan diri bahwa apa yang menimpa cintanya adalah ketetapan atau takdir Allah subhanahu wata’ala tidak mempan juga. Rasa cintanya masih menggebu hendaknya ditangkal dengan beberapa keyakinan tentang risiko yang kita dapatkan jika kita masih bersikukuh mengejar kekasih yang mustahil akan jadi jodohnya karena takdir tidak menghendakinya. Risiko hilangnya seorang kekasih serta siksa di akhirat nanti bila penyakit al-isyq tidak lekas dihilangkan, cobalah dipikir sejenak.
Terapi tersebut juga tak mempan juga, alternatif lain yakni mengubur rasa cinta atau simpati pada lawan jenis dengan apa-apa yang kiranya ada cela dalam akhlaknya, sikap, maupun kecerdasannya dan kekurangan yang lain. Apa-apa yang tidak baik dari lawan jenis membuat penyakit al-isyq yang menggebu agaknya lebih banyak berkurang dan semakin lama akan semakin menghilang penyakit ini.
Dengan mengingat kejelekan dari pemicu penyakit al-isyq, maka semakin mudah jalan penyakit ini keluar dari hati kita.
Secuplik terapi-terapi yang diuraikan oleh Ibnul Qoyyim agaknya mampu membunuh penyakit al-isyq asalkan kita berniat sungguh-sungguh untuk menghindari penyakit al-isyq serta jangan terlalu meratapi dambaan hati yang tak jadi pendamping hidup, bangkitlah dari penderitaan cinta dan bangkit mencari pengganti yang lain, karena rejeki kita siapa tahu. “...dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (QS. Yusuf [12] : 87)
Bentengi Hati Dengan Tazkiyatun Nufs
Menurut Imam Ibnu Al-Jauzi, ”kecintaan, kasih sayang dan ketertarikan terhadap sesuatu yang indah dan memiliki kecocokan tidaklah merupakan hal yang tercela serta tak perlu dibuang. Namun, cinta yang melewati batas ketertarikan dan kecintaan, maka ia akan menguasai akal dan membelokkan pemiliknya kepada hal yang tidak sesuai dengan hikmah yang sesungguhnya, hal seperti inilah yang tercela.”
Tak ada salahnya kita tertarik atau suka dengan lawan jenis asalkan kita mampu membentengi hati kita dengan tazkiyatun nufs yakni membersihkan jiwa dari penyakit hati agar ketika kita tertimpa sesuatu seperti cinta ditolak kita tak akan mudah jatuh. "Sungguh beruntung orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat (menyebut) nama Rabbnya, lalu dia shalat." (QS. al-A’la [87] : 14-15)

Minggu, 21 April 2013

SEDEKAH NASIONAL (27 APRIL)

Jelang Hari Sedekah Nasional (Harsena), 27 April 2013, ghirah pengusaha untuk bersedekah semakin menderu. Hal ini tampak antara lain dalam roadshow seminar pengusaha di Yogyakarta dan Wonosobo belum lama ini.

Bertajuk Duel Mawut Semua Bisa Jadi Pengusaha seminar di kedua kota berlangsung masing-masing pada 13 dan 14 April lalu. Ribuan peserta menghadiri seminar yang diselenggarakan bersama oleh PPPA Daarul Qur'an, Spiritual Company, Makelar Sedekah, dan Waroeng Group. Duel Mawut menghadirkan pembicara pengusaha Jody Brotosuseno (Waroeng Group), Agus Pramono (Ayam bakar Mas Mono), dan Ustadz Yusuf Mansur.

Inti paparan mereka adalah sedekah sebagai salah satu kunci sukses usaha. Seperti disebutkan dalam Al Qur'an, Allah SWT mengajak manusia beramal dengan bahasa bisnis semisal: Siapa sudi meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasan untuknya, dan dia akan beroleh pahala yang banyak (QS Al-Hadiid: 11).

Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun (QS At-Taghoobun: 17).

Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui (QS Al-Baqarah: 261).

Dibakar dengan suntikan para pembicara, para peserta yang kebanyakan pengusaha UKM dan calon pengusaha itupun memulai ikhtiarnya dengan bersedekah.

Menurut Direktur Eksekutif PPPA Daarul Qur'an, Tarmizi Asshidiq, hingga saat ini setidaknya sudah 200 pengusaha sudah berkomitmen untuk memberi teladan pada momentum Harsena 2013.

Insya Allah, hingga tanggal 27 April, Sedekah Nasional akan diikuti 1000 pengusaha, antara lain mereka tergabung dalam komunitas Spiritual Company seperti Sandiaga Uno (Grup Saratoga), Jody Brotosuseno, Agus Pramono, Haji Iyus Ruslan, Hendy Setiono. Juga kontraktor Budi Harta Winata, Solikhun, Masyuri, dan pengusaha dari berbagai daerah seperti ; Makasar, Samarinda, Jogja, Bandung, Semarang, Bogor, Banten, Lampun, Surabaya, Malang dan lain-lain, papar Tarmizi.




Tahun ini, menurut Manager Program PPPA Daqu Nanang Ismuhartoyo, sejumlah proyek amal siap mendayagunakan hasil sedekah nasional. Salah satunya, merampungkan pembangunan Masjid Daarul Qur'an di Kampung Qur'an Ketapang, Tangerang. Masjid ini sudah dirindukan oleh sekitar 10 ribu jamaah yang selama ini sholat di masjid darurat.

PPPA Daqu juga bakal membangun Rumah Susun (rusun) Tahfidz, yaitu rusun bagi para keluarga dhuafa santri tahfidz.

Program Rusun Tahfidz ini sesuai dengan saran Syaikh Saad Al Ghomidi untuk mengawal para santri tahfidz agar terjaga sebagai Penghafal Qur’an selamanya,” terang Nanang.




Setelah Rumah Qur'an Merapi, PPPA Daqu membangun komunitas Rumah Trampil. Ini untuk memberi bekal life skill bagi anak dan remaja keluarga dhuafa di sana. Sehingga, mereka bisa fight untuk hidup tanpa tergantung pada alam yang rawan bencana seperti lereng Merapi. Pembangunan Rumah Qur'an di pedalaman Nusa Tenggara Timur juga terus kita lanjutkan, sehingga kawasan itu menjadi Kampung Qur'an. Demikian juga di daerah terpencil lainnya, imbuh Nanang. Untuk menyuplai para santri tahfidz dengan makanan pokok bergizi, PPPA Daqu terus mengembangkan program sedekah sawah.



Program ini alhamdulillah sudah teruji sejak kali pertama dicoba. Ahad, 17 Februari 2013, Ustadz Yusuf Mansur memimpin panen raya padi dan sayuran organik di bumi persawahan Kadudampit, Sukabumi, Jawa Barat.

Panen raya hasil sedekah sawah itu baru di atas lahan seluas 6 hektar yang dikelola Pusat Pengembangan Pertanian Organik (PPPO) pimpinan Ustadz DR Samsudin.


Selain itu, hasil sedekah nasional juga untuk menggerakkan wakaf Qur'an secara nasional. Melalui program dakwah Qur'an yang diinformasikan Ust. Yusuf Mansur di Wisatahati ANTV, PPPA Daarul Qur'an akan memberikan bantuan mushaf qur'an diiringi dengan pelatihan One Day One ayat oleh asaatidz Daarul Qur'an. (bowo)

 
 




 

Sabtu, 20 April 2013

JAZZ 7 LANGIT

1. Apa benar Jazz itu suatu aliran musik? Alangkah sempitnya kalau ia hanya sebuah aliran, berjajar atau berderet dengan aliran-aliran yang lain. Aku tak mau Jazz sekedar sebuah sungai yang mengalir, betapapun indahnya sungai itu. Bahkan pun andai ia sungai si sorga. Aku mau Jazz itu pengembaraan di jagat raya. Aku mau Jazz itu petualangan kemerdekaan menyusuri seluruh wilayah, bidang, garis, titik-titik, ketinggian dan kedalaman, cakrawala yang menantang atau jiwa rebah di bumi, kemudian terbang kembali se segala penjuru langit tujuh.Tujuh Langit, di luar maupun di dalam diri kita.

2. Tentu saja Jazz itu suatu aliran. Tetapi aku benci kata ‘aliran’ dirampok oleh epistemologi, disempitkan oleh kebudayaan, didangkalkan oleh bahasa, dan dikerdilkan oleh politik dan institusi Agama. Jangan katakan Jazz itu aliran. Nyanyikan: Jazz itu mengalir. Jazz itu berlompatan, berhembus, terbang melayang, menelusup dan menyelam. Jazz menyapa setiap kemungkinan, Jazz menyentuh segala probabilitas. Jazz memandang horizon nun jauh, Jazz mendekap cakrawala di rahim rahasia dirinya. Jazz itu cahaya yang meledak dari Al-Ahad, Sang Entitas Tunggal, memecah diri-Nya menjadi dan mencapai A-Wahid, menyebar, menabur, menjagat mensemesta, meruang tanpa sisa, mewaktu, bertualang di Fana, menembus Baqa. Jazz itu semangat iradah cinta dan hak absolut kemerdekaan Allah atas diri-Nya dan apapun saja yang diciptakan oleh-Nya. Allah menyamar menjadi alam semesta, menjadi ummat manusia, menjadi bunyi dan warna, menjadi kata dan makna. Allah menggemerecakkan nyanyian pada gitar, Allah berdendang pada trombone, terompet dan saksopon, Allah melampiaskan rindu pada tabuhan drum, Allah menyatakan cinta dari belakang punggung para pengrawit, Allah bermanja dan pura-pura mengeluh di snar biola, Allah melantunkan lagu, meneriakkan janji kasih sayang, memekikkan rasa menyatu, sambil bersembunyi di dalam leher penyanyi hamba-Nya.

3.Jazz itu penerimaan seluruh muatan ruang dan waktu, bahkan kesetiaan mengetuk semua pintu. Jazz tidak membuang siapa-siapa, Jazz tidak mengharamkan apa-apa, Jazz memanggul ilmu, kecerdasan dan kepekaan untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya. Haram adalah disharmoni, sesuatu yang dijodohkan padahal bukan jodohnya, sesuatu yang dipadukan padahal bukan paduannya. Maka Jazz tidak mengenal ‘fals’, karena pelakunya mengerti untuk tidak mempertemukan dua hal yang semestinya bersemayam di tempat yang berbeda. Jazz itu puncak kesadaran ‘Mizan’, keseimbangan, harmoni. Harmoni adalah kejujuran atas diri, letaknya dan lelakunya. Kejujuran adalah keikhlasan menjadi ‘diri tempat Tuhan menjelma’, serta kerelaan berada di maqam atau wilayah yang telah disusun ditata oleh sunnah-Nya. Orang yang belum mempelajari harmoni, belum meneliti peta ‘iradah’ dan tata ‘sunnah’, terkurung di dalam kebutaan dan kebodohan untuk membuang-buang yang ia tak pahami, menghardik-hardik yang ia belum mengerti, mensesat-sesatkan yang ia belum dalami. Orang mengharam-haramkan saudaranya dan mengusir-usir mereka dari hakekat cinta, karena belum mengetahui bahwa tidak ada sejengkal ruangpun di luar jagat kasih sayang-Nya.

4. Hai. Apakah Jazz itu ‘musik’? Dan ‘musik’ adalah bagian dari kehidupan?Jadi, apakah Jazz itu ‘bagian dari bagian’ kehidupan? Jangan-jangan Jazz itu cara menjalani kehidupan. Jangan-jangan Jazz itu sikap mental, bahkan sikap hidup. Jangan-jangan Jazz itu cara pandang, cara memandang, cara memperlakukan kehidupan. Jangan-jangan Jazz itu metoda bersyukur dan teknologi kejiwaan untuk bergembira oleh dan atas indahnya ciptaan-ciptaan. Jangan-jangan Jazz itu ‘syariat’, yang orang mengawali pembelajarannya dengan shalat, dengan modal rasa berhutang. Jangan-jangan Jazz itu ‘thariqat’, yang orang mengawali pelatihannya dengan puasa, dengan bekal rasa tiada. Jangan-jangan Jazz itu ‘haqiqat’, yang orang mengawali kesetiaannya dengan zakat, berbekal rasa tak berpunya. Jangan-jangan Jazz itu ‘ma’rifat’, yang menyampaikan pelakunya pada ‘qiblah’ (kiblat) di pusat kalbunya. Jangan-jangan Jazz itu mesranya dan indahnya percintaan dengan Tuhan, yang tak kentara dan tak disangka oleh kebanyakan manusia, bahkan mungkin juga oleh para pelaku Jazz sendiri.

5. Maka jangan tanya apa definisi Jazz, karena dua alasan. Pertama, begitu Jazz didefinisikan, berakhirlah sejarah eksplorasinya. Kedua, karena definisi itu membelenggu, sedangkan Jazz itu memerdekakan. Pun jangan salahkan aku yang lancang menulis sesuatu dengan menyebut-nyebut kata Jazz, yang semua orang menyepakati bahwa itu bukan milikku, bukan hakku, apalagi ekspertasiku. Tak ada pengetahuanku tentang Jazz. Aku lebih dari awam. Bahkan tak ada satu alat musik yang sesederhana apapun yang aku mampu memainkannya. Berkunjunglah ke Planet Musik, musik apapun: tak kan kau temukan jari jemari dan wajahku. Akan tetapi tak ada hak padamu atau pada siapapun saja untuk mempersalahkan cintaku. Karena Jazz sudah terlanjur memasuki telingaku dan menyentuh jiwaku, maka kudekap ia menjadi bagian dari cintaku.
Jazz adalah kuda tunggangan cintaku.
Jazz adalah burung-burung terbang kerinduanku.
Jazz adalah cara darahku mengalir.
Jazz adalah irama perjalananku.
Jazz adalah metode mensyukuri kehidupanku.
Jazz adalah ‘isyq ijtihadku, keasyikan pencarian cintaku.
Jazz adalah riuh rendah perjuangan dan sunyi pisowanan ‘tauhid’ku.

6. Hai. Kehidupan dituntut memahami Jazz, ataukah Jazz memahami kehidupan? Manusia memahami Jazz ataukah Jazz memahami manusia? Kehidupan mangandung Jazz, ataukah Jazz hamil kehidupan? Manusia dialiri Jazz, ataukah Jazz dialiri manusia? Haha. Itu pertanyaan sebelum Jazz. Itu deskripsi yang tanggal di depan gerbang Jazz.Itu pertanyaan orang yang berjarak dari kehidupan.
Itu pertanyaan yang berhitung-hitung sehingga cinta menjauhinya. Jangan dijawab kedua-duanya. Jazz adalah penerimaan bunyi oleh bunyi, keridhaan nada atas nada, keikhlasan nuansa dengan nuansa, ketulusan cinta bersama cinta. Jadi kenapa langit dihitung-hitung tujuh? Hahaha.
Terserah-serah Yang Punya. Tuhan yang menggagas hak, Ia juga yang punya ide tentang kewajiban. Semau-mau Ia juga akan mengikatkan diri pada aturan-Nya ataukah melanggarnya.
Kenapa doremifasollasi? Kenapa ‘qiraah-sab’ah’? Kenapa satuan tujuh dijadikan patokan hampir semua kejadian-kejadian besar dalam sejarah? Kenapa 3,5 abad bersama VOC dan 3,5 tahun bersama Nippon? Kenapa tujuh saja, jangan sampai 5 jangan pula berlebihan hingga 10? Tak perlu 8-9 amat, meskipun kalau bisa jangan sampai 5-6. Tujuh adalah presisi nuansa kebersahajaan. Sebagaimana Jazz menyederhanakan peta keindahan yang sebelumnya dianggap mewah. Sebagaimana Jazz mencairkan, meng-udara-kan, meng-gelombang-kan padatan-padatan bunyi. Hahaha.
Tuhan bermesraan denganmu. Menjebakmu di antara 1 dengan 7, di antara 7 ke tak terhingga. Di senja hidupmu engkau lelah oleh hitungan-hitungan kehidupan, sehingga rebah di pangkuan-Nya.
Kecuali engkau yang menudingkan jari-jarimu ke atas untuk menunjuk langit. Padahal langit bersemayam di dalam jiwamu. Bumi dalam langit. Langit dalam bumi. Keduanya dalam engkau. Bumi langit mikro-kosmos. Engkau makro-kosmos. Karena Ia bertajalli padamu.

7. Apakah Jazz adalah Duke Ellington, Louis Armstrong, Buby Chen, Bing Slamet, atau Balawan dan Beben? Habibuna Maulana Khidlir AS adalah profesor segala profesor Jazz kehidupan, gurubesar segala gurubesar pengembaraan men-tauhid. Yai Sudrun ngiler menetes air dari sudut bibirnya sepanjang zaman. Wajahnya buruk seburuk-buruk wajah. Pakaiannya dikenakan untuk menyamar agar disangka manusia sebagaimana yang menyangka. Tak pakai alas kaki ke manapun, tak cuci kaki naik dan masuk Masjid. Membuka sarungnya dan kencing di lantai Masjid. Tapi tak bisa kau salahlah dia karena tak ada cairan kencing Sudrun di lantai Masjid.
Seribu orang menabuh rebana. Sudrun bosan dengan regulasi nada dan irama rebana. Ia merebut satu rebana, memukulnya sekali, padam ratusan lampu petromak. Kemudian ia lempar rebana itu, berlari dan tertawa-tawa, mentertawakan dunia dan kedunguan penghuninya.
Sudrun tidur telentang di tengah jalan raya. Semua kendaraan stop. Macet tak bergerak. Kedua kakinya dilempar-lempar ke atas seperti bayi. Wajahnya menangis seperti bayi. Mulutnya menangiskan tangis bayi. Para petugas menghampirinya dengan takut-takut:
“Yai Sudrun kenapa nangis di tengah jalan. Ayo kita ke warung saja. Kita cerita-cerita di sana. Supaya jalan bisa dipakai oleh ratusan pengendara yang lalulalang menuju keperluannya masing-masing”
Yai Sudrun meningkatkan tangisnya, memuncakinya dengan kemarahan:
“Sejak pagi tadi Kanjeng Nabi Muhammad datang mengunjungi kita di sini. Kalian semua tak ada yang menyambutnya. Tak ada yang perduli kepada beliau. Kalian semua sibuk mengejar uang dan hal-hal rendah lainnya”Para petugas menjawab:
“Lhoo Yai, kami tidak tahu bahwa Kanjeng Nabi hadir ke sini” Memang.Jazz melihat yang tak terlihat oleh lainnya.

DUSUN MLANGI WISATA RELIJI DI JOGJA

Kampung Mlangi akan menyapa ketika anda haus kebutuhan spritual lewat masjid yang berusia ratusan tahun hingga pesantren yang legendaris.
Dusun Mlangi, Wisata Religius Islami
Jalan beraspal yang kanan kirinya ditumbuhi pohon kelapa akan ditemui bila berjalan ke arah utara melewati ring road barat Yogyakarta. Melaju mengikuti arah jalan itu, anda akan sampai ke sebuah dusun bernama Mlangi, tepatnya di sebuah masjid bernama Jami' Mlangi. Sekeliling masjid itu berupa kompleks pemakaman dengan yang paling terkenal adalah makam Kyai Nur Iman.
Nama Mlangi tak lepas dari sosok Kyai Nur Iman yang sebenarnya adalah kerabat Hamengku Buwono I, bernama asli Pangeran Hangabehi Sandiyo. Kisahnya, Nur Iman yang sudah lama membina pesantren di Jawa Timur diberi hadiah berupa tanah oleh Hamengku Buwono I. Tanah itulah yang kemudian dinamai 'mlangi', dari kata bahasa Jawa 'mulangi' yang berarti mengajar. Dinamai demikian sebab daerah itu kemudian digunakan untuk mengajar agama Islam.
Masjid Jami' Mlangi adalah bangunan paling legendaris di dusun ini karena dibangun pada masa Kyai Nur Iman, sekitar tahun 1760-an. Meski telah mengalami renovasi dan beberapa perubahan, arsitektur aslinya masih dapat dinikmati. Diantaranya adalah gapura masjid dan dinding sekitar masjid yang didesain seperti bangunan di daerah Kraton. Di dalam masjid yang oleh warga sekitar disebut "Masjid Gedhe" itu juga tersimpan sebuah mimbar berwarna putih yang digunakan sejak Kyai Nur Iman mengajar Islam.
Makam Kyai Nur Iman dapat dijangkau dengan melewati jalan di sebelah selatan masjid atau melompati sebuah kolam kecil yang ada di sebelah tempat wudlu. Makam itu terletak di sebuah bangunan seperti rumah dan dikelilingi cungkup dari bahan kayu. Makam itu selalu ramai sepanjang tahun, terutama pada tanggal 15 Suro yang merupakan tanggal wafatnya Kyai Nur Iman dan bulan Ruwah. Hanya pada bulan ramadan saja makam itu agak sepi. Biasanya, para peziarah membaca surat-surat Al-Qur'an dengan duduk di samping atau depan cungkup makam.
Berkeliling ke dusun Mlangi, anda akan menjumpai setidaknya 10 pesantren. Diantaranya, sebelah selatan masjid pesantren As-Salafiyah, sebelah timur Al-Huda, dan sebelah utara Al-Falakiyah. Pesantren As-Salafiyah merupakan yang paling tua, dibangun sejak 5 Juli 1921 oleh K.H. Masduki. Mulanya, As-Salafiyah bukanlah pesantren, hanya komunitas yang belajar agama di sebuah mushola kecil. Komunitas itu lantas berkembang menjadi pesantren karena banyak yang berminat. Meski bangunannya tak begitu besar, pesantren ini memiliki 300-an santri dan menggunakan metode mengajar yang tak kalah maju dengan sekolah umum.
Keakraban penduduk dengan Islam bukan sesuatu yang dibuat-buat. Buktinya dapat dilihat dari cara berpakaian penduduk. Di Mlangi, para lelaki biasa memakai sarung, baju muslim, dan peci meski tidak hendak pergi ke masjid. Sementara hampir semua perempuan di dusun ini mengenakan jilbab di dalam maupun di luar rumah. Pengamalan ajaran Islam seolah menjadi prioritas bagi warga Mlangi. Konon, warga rela menjual harta bendanya agar bisa naik haji.
an. Kini, usaha yang sedang berkembang adalah celana batik, peci, jilbab, net bulutangkis, dan papan karambol.Meski banyak warga punya kesibukan dalam mendalami agama Islam, tak berarti mereka tidak maju dalam hal duniawi. Dusun Mlangi sejak lama dikenal sebagai salah satu penghasil tekstil terkemuka, hanya jenis produknya saja yang berubah sesuai perkembangan jaman. Pada tahun 1920-an, usaha tenun dan batik cetak marak di kampung ini hingga tahun 1965-an. Usaha itu mulai pudar sejak batik sablon menguasai pasar dan harga kain bahan batik terus meningkat. Akhirnya, hanya tersisa beberapa pengusaha batik, diantaranya Batik Sultan agung yang juga mulai meredup akhir 1980-
Setiap Ramadan, dusun ini selalu ramai dengan ritual ibadah yang dijalankan warganya. Mulai dari tadarus, pengajian anak-anak, dan sebagainya. Tak sedikit pula masyarakat dari luar Mlangi yang datang untuk 'wisata' agama, semacam pesantren kilat. Nah, bila anda ingin berkunjung ke Mlangi, inilah saat yang tepat. Sepanjang siang selama bulan Ramadhan, anda juga akan melihat betapa akrab anak-anak bermain petasan.

sheila on 7 band legend Indonesia personel2 yg bersahaja...